1. Nama: Nadiah Salma

Varian: S1 Reguler Kesehatan Masyarakat 2015

Deskripsi Karya:

I’m trying to lie down, close my eyes, and relax.

I’m trying to go to another world.

I’m trying to hear anything but I can’t.

I’m trying to sleep but I can’t.

The only thing I can do is wondering.

Alright,

I’m wondering myself jump from the rainforest canopy, just like a flying squirrel.

I’m falling from the sky into the water, like poor wet flying squirrel. Deeper and deeper, everything goes dark and cold. Then, I’m freezing and being an ice cube.

The water brings me to the edge of the river, I’m melting because the sunshine.

Then I take a look at beautiful birds flying near Baobab trees. I’m wondering myself flying with them and taking all my dreams hanging on the sky

NadilahXSalmaX1

 

2. Nama: Ary Dwiaji

Varian: S2 Mutu 2015

Deskripsi Karya:

Andaikan bisa tetap kecil walau habis makan sebanyak apapun.

Processed with VSCO with 10 preset

 

3. Nama: Sulthana Labiba Khansa

Varian: S1 Reguler Kesehatan Lingkungan 2015

Deskripsi Karya:

Pengandaian yang tak bisa diungkapkan. Terkadang menulis itu cukup tanpa berkata.

Andai yang tak bertuan

Andai aja 12 dibawah dan 6 diatas

Andai aja jarum panjang berpindah setiap detiknya

dan jarum jamnya berhenti

Detiknya berhenti

Saat ini

Saat aku ingin

Dan itu saat ini

 

Aku terpejam

Terhenyak

Sesekali bersiul……. merdu

 

Tapi tidak sekarang.

 

Siulannya tidak merdu lagi

Sejak disapa oleh nostalgia

Dia merampas merdu itu

dan aku benci

 

Andai aja 12 dibawah dan 6 diatas

Andai aja kucing tidak suka makan ikan

Andai aja malam kemarin masih ada

Tak berubah jadi pagi

Pagi yang tak diinginkan

Mataku melek, tapi tak ingin melek

Karena kutak ingin melihat kenyataan ini

Andai aja kuberhenti berandai – andai

 

4. Nama: Desny Putri Sunjaya

Varian: S1 Reguler Kesehatan Lingkungan 2013

Deskripsi Karya: Cerita ini diangkat dari kisah nyata, bila ada kesamaan tempat, nama, dan sebagainya adalah sebuah keajaiban

Mau Sakit

Siang itu gue mau berambis ria, menghadiri sidang proposal kakak tingkat untuk pertama kalinya. Dengan perut kosong, gue hanya menikmati belaian AC yang membuat gue semakin menggigigil. Jas lab, satu-satunya benda di dalam tas yang bisa gue manfaatin. Gue merasakan ada yang bergetar di dalem tas gue, ternyata telepon dari Randi.

“Ci, lu jangan lupa makan yah. Gue mau berangkat ke Pandeglang sekarang. Lu mau ikut enggak?” Tanya Randi di ujung telepon.

“Gue juga pengen makan nih Kak, kelaperan. Mana dingin banget di sini. Tapi gue pengen nyobain sakit deh. Kalau gue sakit, nanti cowok yang gue suka jengukin gue. Dia nungguin gue sampe ketiduran di samping tempat tidur gue. Ah romantisnya” gue berandai-andai.

“Hati-hati sama ucapan, Ci. Dikira sakit enak?. Pokoknya lu cepet makan deh. Gue pamit ya. Gue mau ke Sawarna besok, refreshing di tengah skripsian. Bye”. Randi menutup telepon begitu saja.

Selesai dengan kegiatan ambis di dalam ruangan kembaran kutub utara, waktunya gue memberi gizi cacing-cacing yang berada di dalam perut ini. Terakhir gue makan mie instan kemarin sore sambil menikmati indahnya langit senja Depok di atap kosan.  Waktu makan di kantin hari itu hujan turun, tambah kedinginan deh gue. Kemudian, gue melanjutkan aktivitas hari ini dengan praktikum. Lagi-lagi gue ketemu AC yang dinginnya menembus tulang-belulang. Sepertinya ada yang tidak beres dengan tubuh gue.

Sore harinya gue demam, entah berapa suhu tubuh gue. Yang bisa gue lakukan hanyalah tidur di kosan, sendirian. Gue gak sanggup Sholat Maghrib berdiri, akhirnya gue duduk. Suhu tubuh gue belum turun, badan serasa remuk. Rasanya mual banget. Gawat, gue sakit beneran nih.

Awalnya gue gak mau ngabarin siapapun tentang keadaan gue, namun apalah daya gue ingin memanjakan diri ke nyokap bokap gue. Mereka panik ketika tahu kabar anak gadisnya sakit. Selang beberapa menit setelah mengabari keluarga di rumah, terdengar ketukan pintu. Mba Putri, penjaga kosan gue menjadi orang pertama yang menjenguk. Ia membawakan bubur ayam dan menawari gue berobat. Untungnya gue sempat ke Pusat Kesehatan Masahasiswa yang difasilitasi kampus tercinta, jadi gue tolak tawaran Mba Putri. Sejatinya gue lupa apa kata dokter tentang sakit gue, gue anggap gejala tipus. Jadi setiap ada yang bertanya gue sakit apa, jawabannya gejala tipus.

***

Hari itu hari Sabtu. Gue menghabiskan waktu di dalam kosan, meninggalkan semua kegiatan yang sudah diagendakan jauh-jauh hari. Terima Kasih untuk sahabat gue Nadhila yang membawakan makan siang dan menjadi penjenguk kedua setelah Mba Putri. Jikalau Nadhila tidak datang membawakan sebungkus nasi dan sayur sop, mungkin gue gak makan seharian. Sepulangnya Nadhila, Gue bener-bener ngerasa kesepian dan jauh banget sama semua orang.  Gue membayangkan Randi yang tengah bersenang-senang di pantai Sawarna yang indah, sedangkan Gue terkapar di perantauan. Ran… gue beneran sakit.

Malam Minggu, Gue nangis setelah gue memuntahkan bubur dan 3 macam obat yang telah gue minum. Gue langsung meminta kedua orang tua gue menjemput ke Depok. Dalam situasi seperti ini guemasih sempat mengkhayal kalau gue akan dibawa ke Pandeglang, gue dirawat, lalu gue dijenguk orang-orang yang gue sayang.  Akhirnya gue tertidur dalam penantian jemputan, di kamar nomor 11 lantai 3 pondok Lambang Kuning, Barel.

Esok harinya keadaan gue membaik, mungkin karena ada bokap dan nyokap gue yang jauh-jauh dari Pandeglang ke Depok demi gue. Dilema melanda antara pulang dan Ujian di hari Senin. Sebagai Kepala Keluaga yang bijak, bokap tidak mengizinkan gue pulang. Sebuah kejutan yang menambah energi dan semangat hidup gue hari itu adalah kedatangan Abang gue.

“Ci katanya lu sakit, kok seger gitu?”. Perdana, abang gue satu-satunya memang tak berperikemanusiaan.

“Adikmu beneran sakit Dan, karena ada kita dia memaksakan dirinya untuk terlihat sehat”. Nyokap mengelus rambut gue dengan penuh kasih sayang. Sakit enak yah, dimanja.

“Oya Ci, cewek-cewek UI cantik-cantik ya. Gue betah kuliah di sini” abang gue emang kampungnya jelas banget dah. “Tapi gila, itu jembatan parah banget. Kaki gue rontok kalau tiap hari harus naik tangga, tapi lebih enakan di Pandeglang sih menurut gue”.

Jembatan yang abang gue maksud adalah jembatan stasiun UI, yang dikenal dengan sebutan jembatan aborsi. Berkat kehadiran keluarga gue dan segala kelakuan memalukan dari abang gue, gue merasakan kesembuhan menjalar dalam setiap aliran darah mengusir sakit yang gue derita. Kehangatan memenuhi kamar kosan gue kala itu. Malamnya abang dan bokap tidur di kamar sebelah yang kebetulan kosong, dan nyokap menemani gue di kamar. Andai setiap malam seperti ini, alangkah bahagianya diri ini.

***

Senin pagi, dengan persiapan belajar seadanya di tengah kondisi seperti ini gue masih agak sakit dan di kamar suasana tak kondusif akibat obrolan dan candaan abang-bokap-nyokap) bokap mengantar gue ke kampus untuk Ujian. Gue kerahkan tenaga yang gue miliki untuk meniti anak tangga aborsi. Bokap beberapa langkah tertinggal di belakang.

“Maaf ya Pak, Aci ngerepotin” sungguh perkataan ini tulus keluar dari mulut gue.

“Enggak apa-apa. Bapak jadi olah raga naik tangga” jawab Bokap enteng. Meskipun gue beneran gak tega liat bokap harus naik 49 anak tangga aborsi.

“Kok Bapak mau nganterin? padahal Aci bisa sendiri”

“Bapak pengen liat-liat UI, terakhir Bapak masuk ke FKM waktu Aci baru masuk UI” Bapak menghela napas agak panjang setelah menginjak anak tangga terakhir. “Harusnya abang kamu ikut, biar tahu UI dari dalam”.

“Oh iya, kemarin Bapak sengaja menyuruh abang Dana naik tangga ini?” tanyaku menghindari suasana sedih-sedihan di pagi hari.

“Iya. Abang kamu harus merasakan, yang sakit aja kuat naik tangga apalagi yang sehat”

Gue dan Bokap tertawa sambil menuruni tangga aborsi. Benar-benar pagi yang indah. Bokap mengikuti gue naik Bis Kuning, mengantar gue hingga masuk FKM, dan kemudian kami berpisah karena Bokap ingin keliling UI, katanya. Awalnya gue mau diantar naik mobil yang diparkir di FISIP, tapi gue menolak karena menurut gue ribet. Tapi gue gak nyangka juga Bokap menemani langkah gue sebelum ujian pagi itu. Thanks God. Hikmah sakitkah ini?.

Keluarga gue pulang malam hari, selain karena keadaan gue mulai membaik juga karena STNK mobil bokap mati jadi perjalanan Depok-Pandeglang lebih aman dari polisi. Di dalam kamar jadi benar-benar sepi sepeninggal mereka. Baru beberapa menit yang lalu kehangatan menyelimuti gue, sekarang gue merasa kesepian lagi. Andai gue ga ngekos. Andai rumah gue deket sama kampus. Andai keluarga gue masih di sini. lagi-lagi gue berandai. Aci… anak yang sebatang kara…

***

Randi udah balik dari Pandeglang. Dia membelikan gue tablet berisi cacing yang berguna untuk menurunkan panas, karena suhu badan gue naik setelah gue kedinginan di dalem ruangan ber-AC beberapa hari yang lalu. Telapak tangan dan kaki gue merah dan bengkak. Astaga, kenapa baru sembuh dari satu penyakit alergi gue muncul?. Gue kira itu alergi, tapi nyokap menjelaskan via telepon bahwa itu adalah reaksi tubuh mengeluarkan panasnya. Beberapa hari berikutnya telapak tangan dan kaki gue kembali normal.

“Kak, gue menyesal waktu itu bilang pengen sakit biar dijenguk cowok idaman gue. Boro-boro dijenguk, orang yang gue kira peduli sama gue aja malah ninggalin gue buat seneng-seneng” pengaduan dosa dimulai.

“Lagian sakit dibuat. Katanya anak FKM, mencegah penyakit, sendirinya malah sengaja sakit” Randi tersenyum ke arah gue. Gue salah tingkah melihat senyum manisnya Randi. Tapi yang dikatakan Randi memang benar. Gue menyesal atas perkataan gue. Sakit itu ga enak. Adegan di film-film yang biasa gue tonton itu bohong. Sakit tuh membuat gue tak berdaya. Makan tak nikmat, tidur bosan karena terlalu banyak, di kosan sendirian, dan pangeran tidak datang.

“Udah deh jangan disalahin terus” kata gue manja. “Lu juga tega banget kak, ilang di saat gue sakit.”. Gue kira Randi mau minta maaf dan merasa bersalah atas apa yang telah dia lakukan terhadap gue.

“Dasar bocah, jadi lu ngarepin gue jengukin lu pas kemarin?”

Ah bukan itu kalimat yang gue ingin dengar dari mulut Randi. Gue malu. Gue mau menghilang aja. Gue mau terbang, tapi gue gak bisa terbang. Gue masih ada di samping Randi. Gue cuma bisa nunduk membenamkan kepala gue ke dalam jaket. Pura-pura tak mendengar pertanyaan Randi.

“Ayo pulang” pint ague.

Randi mengantar gue hingga depan Kosan. Setelah mengucapkan terima kasih gue langsung naik tangga menuju kamar. Menyesali apa yang udah dilontarkan bibir ini. Lebih baik aku melupakannya. Dunia masih sama. Randi masih kakak kedua buat gue. Andai Randi bisa gue miliki. Sudah hentikan, jangan berandai lagi. Sudah diberi kesembuhan dan dikembalikannya sehat gue aja, gue bersyukur banget.

ctt :

wahai kalian, jangan sekali-sekali mengaharapkan sakit. Asli sakit itu tidak enak. :*

 

5. Nama: Dhita Yoana

Varian: S1 Reguler Kesehatan Masyarakat 2015

Deskripsi Karya:

Menjadi pemain terbaik dalam alur ceritaNya adalah pengandaian setelah kecewa akan pengandaian sebelumnya. Pengandaian untuk terus berproses menjadi manusia, memaknai setiap inci kehidupan.

(Selanjutnya diserahkan pada pembaca)

Menjadi pemain terbaik dalam alur ceritaNya

Kejora menyapaku dalam sunyi

Pada malam yang elok disudut pandang sang pelita hati

Dalam keheningan

Sepoi angin membawa dedaunan, bunga dan bebijian

Jatuh penuh kerelaan

Mengikuti alur kuasa segala adegan

Begitukah seharusnya perilaku setiap insan ?

Yang penuh pengakuan akan Tuhan

 

Aku malu

Hidup penuh pengandaian

Pengharapan akan cita dan cinta

Dirundung kecewa

Ketika semua semu

Maya, hilang tak bersisa

Aku yang sering lupa

Lupa kuasa sang maha

Pencipta segala rencana

Pengabul segala doa

 

Bukan, bukan berarti salah untuk bermimpi

Jiwa penuh pengharapan harus tetap ada dalam diri

Andai aku mampu

Akan kulukis setiap cerita yang membawaku disini

Dulu aku hanya ingin materi

Ingin dipuji dan pengakuan akan diri

Mempertahankan eksistensi

Untuk kepuasan yang justru tiada bertepi

Ah

Kerdil sekali pengandaianku itu

 

Hujan turun hari ini

Membantu mengubur segala keegoisan diri

Harapan yang selalu ku nanti

Dengan status berproses tiada henti

Aku yang belajar memperbaiki diri

Menjadi seorang yang mampu menghambakan diri pada ilahi

Seorang yang mampu berbakti pada ayah dan bunda terkasih

Seorang yang mampu berdedikasi bagi ibu pertiwi

Juga seorang yang mampu memberi arti bagi setiap orang yang dijumpai

Dan yang pasti

Berharap menjadi seorang yang mampu mengendalikan diri sendiri

 

Ku eja bait pelangi

Ku susun setiap mimpi

Dalam spektrum warna berbagai definisi

Meneguhkan hati

Bersiap untuk apapun yang terjadi

Sambil berkaca ku berucap

Tugasmu berniat baik, berdoa dan berusaha

Andaikan semua jauh dari yang kau kira

Kau hanya tinggal berusaha menjadi pemain terbaik dalam alur ceritaNya

 

6. Nama: Khairunnisa Ahadini

Varian: S1 Reguler Kesehatan Masyarakat 2014

Deskripsi Karya:

Tak perlu kata “jika” karena kita bersama pasti akan mewujudkannya 🙂 #goFKM

1448038837151

7. Nama: Fauziah Mauly Rahman

Varian: S1 Reguler Gizi 2015

Deskripsi Karya: Andaikan selamanya begini :”)

messageImage_1461654283333

IMG_6372